Selasa, 31 Mei 2011

Imunisasi yang Dibutuhkan Remaja

Jakarta, Jadwal imunisasi rutin biasanya dikenal diberikan pada bayi atau balita. Tapi ternyata tak pada balita, remaja pun membutuhkan imunisasi baik yang bersifat rutin maupun imunisasi yang diberikan karena keadaan khusus. Imunisasi apa saja?

Berikut 4 imunisasi alias vaksin yang direkomendasikan oleh Centers For Disease Control and their Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) untuk semua remaja, seperti dilansir About.com, Selasa (30/5/2011):

1. Vaksin Tdap
Tdap adalah vaksin untuk tetanus, diphtheria toxoids dan acellular pertussis. Selain vaksin untuk tetanus, vaksin ini juga melindungi terhadap difteri dan pertusis. Hal ini karena pertusis (batuk rejan) meningkat di kalangan remaja. Vaksin Tdap direkomendasikan untuk remaja usia 11 hingga 12 tahun.

2. Vaksin meningokokus
Vaksin meningokokus dikembangkan untuk melindungi remaja terhadap bakteri meningitis. Bakteri meningitis adalah infeksi serius pada otak dan tulang belakang yang membunuh sekitar 10 hingga 15 persen dari orang yang terinfeksi, bahkan dengan perawatan antibiotik. Vaksin ini juga secara rutin diberikan pada remaja usia 11 hingga 12 tahun.

3. Vaksin Human Papilloma Virus (HPV)
Vaksin HPV diindikasikan untuk semua perempuan dari usia 9 sampai 26 tahun. Vaksin ini melindungi terhadap HPV, virus yang menyebabkan kanker serviks dan genital warts (kulit kelamin).

4. Vaksin influenza
Vaksinasi flu sekarang dianjurkan untuk semua anak dari usia 6 bulan sampai 18 tahun. Di Indonesia, vaksin ini biasanya bisa diberikan kapan saja (tidak bergantung musim) yang bisa diberikan rutin setiap tahun sekali.

Sedangkan vaksin pilihan yang mungkin dibutuhkan remaja sesuai dengan masalah kesehatan kronis atau faktor lain, dokter anak biasanya akan menyarankan untuk vaksin berikut:

1. Vaksin hepatitis A
Vaksin ini digunakan untuk melindungi terhadap hepatitis A. Dua dosis vaksin diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan terpisah untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit hati. Remaja yang tinggal di daerah dengan sejumlah besar kasus hepatitis A harus divaksinasi. Selain itu, remaja yang bepergian ke negara-negara tertentu juga harus mendapatkan vaksin ini.

2. Vaksin Pneumococcal Polysaccharide (PPV23)
Pneumokokus dapat menyebabkan penyakit pneumonia, meningitis atau bakteremia. Vaksin ini tidak secara rutin diberikan kepada remaja kebanyakan. Remaja yang mungkin membutuhkan vaksin ini adalah remaja dengan kondisi kronis tertentu, misalnya penyakit sel darah merah sabit, diabetes, penyakit jantung kronis atau penyakit paru-paru kronis.



(mer/ir)


Redaksi: redaksi[at]detikhealth.com
Informasi pemasangan iklan
Ines - 7941177 ext.523
Elin - 7941177 ext.520
email : iklan@detikhealth.com
http://health.detik.com/read/2011/05/31/091620/1650566/764/imunisasi-yang-dibutuhkan-remaja 

Minggu, 29 Mei 2011

USAHA PENANGULANGAN DAMPAK PENCEMARAN UDARA




Oleh karena pencemaran lingkungan mempunyai dampak yang sangat luas dan sangat merugikan manusia maka perlu diusahakan pengurangan pencemaran lingkungan atau bila mungkin meniadakannya sama sekali. Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran tersebut ada 2 macam cara utama , yakni :
1.      Penanggulangan Secara Non-teknis
2.      Penanggulangan Secara Teknik
Melalui cara penanggulangan dengan cara non-teknis dan teknis ini diharapkan bahwa pencemaran lingkungan akan jauh berkurang dan kualitas hidup manusia dapat lebih ditingkatkan. Barangkali akan timbul pertanyaan pada diri kita : “Mungkinkan itu dapat terjadi ?” Jawabannya adalah : “Mungkin ! Sejauh ada niat dan keinginan untuk melaksanakannya. Oleh karena itu usaha menanggulangi dan mengurangi pencemaran lingkungan sepenuhnya tergantung pada kita semua. Kalau kita ingin meningkatkan kualitas hidup kita , maka sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita bersama untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan”.
1.      Penanggulangan Secara Non-teknis
Dalam usaha mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan dikenal istilah penanggulangan secara non-teknis, adalah suatu usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan perundanagn yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan.
Peraturan perundangan yang dimaksudkan hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang kegiatan industri dan teknologi yang akan dilaksanakan disuatu tempat yang antara lain meliputi :
a)      Penyajian Informasi Lingkungan (PIL)
b)      Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
c)      Perencanaan Kawasan Kegiatan Industri dan Teknologi
d)     Pengaturan dan Pengawasan Kegiatan
e)      Menanamkan Perilaku Disiplin

2.      Penanggulangan Secara Teknis
Apabila berdasarkan kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) ternyata bisa diduga bahwa mungkin akan timbul pencemaran lingkungan, maka langkah berikutnya adalah memikirkan penanggulangan secara teknis. Banyak macam dan cara yang dapat ditempuh dalam penanggulangan secara teknis. Adapun criteria yang digunakan dalam penanggulangan secara teknis tergantung pada factor berikut :
a)      Mengutamakan keselamatan lingkungan
b)      Teknologinya telah dikuasai dengan baik
c)      Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggung-jawakan
Berdasarkan criteria tersebut diatas diperoleh beberapa cara dalam hal penanggulangan secara teknis, antara lain adalah sebagai berikut :
Ø  Mengubah Proses
Apabila dalam suatu proses industri dan teknologi terdapat bahan buangan (limbah) yang berupa zat-zat kimia maka akan terjadi pencemaran lingkungan oleh zat-zat kimia baik melalui pencemaran udara, pencemaran air maupun melalui pencemaran daratan. Keadaan ini harus dihindari, yaitu dengan mengubah proses yang ada dan memenuhi criteria dibawah ini:
a). Mengutamakan keelamatan lingkungan
b). Teknologinya telah dikuasai dengan baik
c). Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan
Sebagai contoh pada industri pengolahan bahan nuklir, untuk mendapatkan unsure uranium dari batuan uranium digunakan serangkaian proses yang melibatkan penggunaan zat-zat kimia. Pemakaian zat kimia seringkali menimbulkan masalah pada limbah buangannya. Sebagai ganti zat kimia, pada saat ini telah difikirkan pemakaian bakteri tertentu untuk memecah bantuan ini yang tidak membahayakan lingkungan.

Ø  Mengganti Sumber Energy
Sumber energy yang digunakan pada berbagai kegiatan industri dan teknologi sebagian besar masih mengandalkan pada pemakaian bahan bakar fosil, yang menghasilkan komponen pencemaran udara yang berupa gas. Hal ini bisa dikurangi dengan memakai bahan bakar LNG (Liquified Natural Gases) yang menghasilkan gas buangan yang lebih bersih.
Ø  Mengelola Limbah
Pengelolaan limbah industri dari bahan buangan industri dan teknologi dimaksudkan untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Cara pengelolaan limbah ini sering disebut dengan Waste Treatment atau Waste Management. Cara mengelola limbah industri dan teknologi tergantung pada sifat kandungan limbah serta tergantung pula pada rencana pembuangan olahan limbah secara permanen.
Ø  Menambah Alat Bantu
Untuk melengkapi cara penanggulangan pencemaran lingkungan secara teknis dilakukan dengan menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan untuk mengurangi atau menanggulangi pencemaran lingkungan diantaranya adalah:
a.       Filter Udara
Filter udara yang dimaksudkan untuk menangkap abu atau partikel dari cerobong atau stack, agar tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga udara bersih saja yang keluar dari cerobong.
b.      Pengendap Siklon (Cyclone Separator)
Pengendap siklon adalah pengendap debu/abu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruangan pabrik yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara/gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relative berat akan jatuh ke bawah.


c.       Filter Basah
Prinsip kerja filter basah adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. 
d.      Pengendap Sistem Gravitasi
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor yang ukuran partikelnya relative cukup besar, sekitar 50 µ atau lebih. Cara kerja alat ini sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba, partikel akan jatuh terkumpul dibawah  akibat gaya berat sendiri.
e.       Pengendap Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara kotor dalam jumlah realtif besar dan pengotor udaranya adalah aerool atau uap air, alat dapat membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relative bersih.

Keempat macam penanggulangan secara teknis tersebut diatas dapat berdiri sendiri-sendiri, atau bila dipandang perlu dapat pula dilakukan secara bersam-sama, tergantung kepada kajian dan kenyataan yang sebenarnya.
Jadi secara garis besar, pencemaran udara dapat ditanggulangi dengan cara sebagai berikut :
1)      Untuk mengurangi pencemaran udara dari gas CO, para ahli motor dan industry merancang katalis yang disebut Catalytik Converter yang digunakan pada cerobong asap (knalpot), yang berfungsi mengubah CO dan NO menjadi gas yang tidak beracun.
2)      Mengurangi Konsentrasi CO2 diatmosfer, berdasarkan siklus CO2 dan O2, maka diperlukan pelaksanaan pengelolahan hutan dengan system tebang tanam, memperluas hutan konservasi, penghijauan pegunungan gundul, gerakan menanam pohon belakang rumah dan memperbanyak taman kota.
3)      Menggunakan bahan bakar anti polusi, misalnya kendaraan dengan tenaga lstrik dari surya atau bahan bakar dari jenis alkohol.


PAPARAN LINGKUNGAN TANAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            LATARBELAKANG MASALAH
Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda kembali yang kaya akan unsur hara.
Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut. Salah satu diantaranya, penyelenggaraan pembangunan di Tanah Air tidak bias disangkal lagi telah menimbulkan berbagai dampak positif bagi masyarakat luas, seperti pembangunan industri dan pertambangan telah menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu seringkali diikuti oleh dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah, erosi dan sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi.
Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu
mendapatkan perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan
pertanian tersebut mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya yang bisa
mencemari badan air dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh
terhadap kesehatan makhluk hidup. Hal ini dengan adanya pencemaran tanah akan berdampak pada lingkungan sekitarnya terutama dapat terpapar adanya pencemaran tanah tersebut, karena begitu banyak bahan kimia, pelarut, dan bahan-bahan berbahaya lainnya yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lainnya.

1.2.            RUMUSAN MASALAH
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian paparan dan tanah secara umum?
2. Bagaimana paparan terhadap lingkungan tanah?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan akibat paparan lingkungan tanah?
4. Bagaimana penanganan yang harus dilakukan terhadap paparan linkungan tanah?

1.3.            TUJUAN MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan permasalahan ini adalah untuk mengetahui :
  1. paparan dan tanah secara umum
  2. paparan terhadap lingkungan tanah
  3. dampak yang ditimbulkan akibat paparan lingkungan tanah
  4. penanganan yang harus dilakukan terhadap paparan linkungan tanah



BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Definisi Paparan dan Tanah Secara Umum
            Paparan adalah pengalaman yang didapat populasi atau organisme akibat terkena atau terjadinya kontak dengan suatu factor agent potensial yang berasal dari lingkungan. Tempat paparan dapat berupa lokasi geografis, dan lokasi pada tubuh. Lokasi geografis dapat mengungkapkan hubungan paparan dengan factor geografis lainnya. Paparan pada bagian-bagian tubuh efeknya tidak akan sama, misalnya paparan mengenai syaraf, atau saluran pernapasan, atau kulit, akan member efek yang berbeda.
Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar.
Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah. Pencemaran tanah terjadi akibat masuknya benda asing (misalnya senyawa kimia buatan manusia) ke tanah dan mengubah suasana/lingkungan asli tanah sehingga terjadi penurunan kualitas dalam fungsi tanah.
Tanah mempunyai beberapa karakteristik yang terbagi dalam tiga kelompok diantaranya adalah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Setiap jenis tanah memiliki sifat fisik tanah yang berbeda. Usaha untuk memperbaiki kesuburan tanah tidak hanya terhadap perbaikan sifat kimia dan biologi tanah tetapi juga perbaikan sifat fisik tanah. Perbaikan keadaan fisik tanah dapat dilakukan dengan pengolahan tanah, perbaikan struktur tanah dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Selain itu sifat fisik tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar dalam tanah, retensi air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Sifat fisik tanah juga mempengaruhi sifat kimia dan biologi tanah.
·         Sifat fisik tanah : tekstur, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, aerasi.
·         Tanah terdiri dari 3 komponen :
-          Komponen padatan terdiri atas mineral anorganik dan bahan organik.
-          Komponen cair (liquid) terdiri atas air, ion yang terlarut, molekul, gas yang secara kolektif disebut : cairan tanah (soil solution).
-          Komponen gas tanah seperti gas atmosfer di atas tanah tetapi berbeda proporsinya.

2.2.      Definisi Paparan Terhadap Lingkungan Tanah
Paparan pada lingkungan tanah adalah pengalaman yang didapat populasi atau organisme akibat terkena atau terjadinya kontak dengan suatu factor agent potensial atau bahan kimia buatan manusia yang masuk dan mengubah lingkungan tanah alami.
Tataguna lahan menentukan kualitas lingkungan dan paparan masyarakat sekitarnya. Lahan dapat digunakan untuk pertanian, maka ada kemungkinan masyarakat terpapar insektisida dan pupuk akibat kegiatan tersebut. Lahan dapat digunakan untuk kawasan industri, maka paparan dapat terjadi terhadap semua buangan industri. Buangan dapat berbentuk gas, cairan maupun bunagan padat. Lahan digunakan untuk pemukiman dan rumah sakit. Sama halnya, masyarakat akan terpapar terhadap buangan domestik dan rumah sakit. Khususnya apabila lahan dimanfaatkan bagi tempat pembuangan akhir (TPA) limbah padat, maka tergantung dari kualitas struktur TPA tersebut, masyarakat dapat terpapar gas, cairan/lindi, dan hewan yang bersarang didalamnya. Yang membahayakan kesehatan adalah paparan terhadap gas metan, H2S yang beracun, dan lalat serta tikus yang dapat membawa agent penyakit.
            Untuk mengukur gas buang, atau limbah cair, maka dapat diberlakukan sama dengan yang telah diuraikan dibawah atmosfir dan hidrosfir. Khususnya untuk mengukur paparan terhadap lalat dan tikus dapat digunakan indeks lalat yang ada standarnya. Demikian pula indeks pinjal yang dapat dihitung, dan biasa pula dipantau.
            Pemukiman dapat juga dinilai dengan kualitas bangunannya baik itu permanensinya, atau denah, luas hunian, ventilasi, pencahayaan, kebisingan dan seterusnya. Semua ini dapat dijadikan patokan untuk menilai kualitas perilaku yang dapat timbul, karena sangat berkolerasi dengan kualitas hunian.

Paparan pada lingkungan tanah ini biasanya terjadi karena:
1.      Kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial
2.      Penggunaan pestisida
Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan/pertumbuhan dari hama, penyakit dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan hasil pertanian. Pestisida secara umum digolongkan kepada jenis organisme yang akan dikendalikan populasinya. Insektisida, herbisida, fungsida dan nematosida digunakan untuk mengendalikan hama, gulma, jamur tanaman yang patogen dan nematoda. Jenis pestisida yang lain digunakan untuk mengendalikan hama dari tikus dan siput (Alexander, 1977).
Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian, yang mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati, efisien untuk mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan aman bagi lingkungan sekitarnya. Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi, seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu.
Dalam penerapan di bidang pertanian, ternyata tidak semua pestisida mengenai sasaran. Kurang lebih hanya 20 persen pestisida mengenai sasaran sedangkan 80 persen lainnya jatuh ke tanah. Akumulasi residu pestisida tersebut mengakibatkan pencemaran lahan pertanian. Apabila masuk ke dalam rantai makanan, sifat beracun bahan pestisida dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, mutasi, bayi lahir cacat, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom) dan sebagainya (Sa’id, 1994).
Penyemprotan dan pengaplikasian dari bahan-bahan kimia pertanian selalu berdampingan dengan masalah pencemaran lingkungan sejak bahanbahan kimia tersebut dipergunakan di lingkungan. Sebagian besar bahanbahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer dimana akan diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah (Uehara, 1993).
3.      Masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan
4.      Kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah
5.      Air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian akan terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

2.3.      Dampak yang Ditimbulkan Akibat Paparan Lingkungan Tanah
            Berbagai dampak yang ditimbulkan akibat diantaranya adalah :
1.      Pada kesehatan
Dampak paparan pada lingkungan tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

2.      Pada Ekosistem
Paparan di lingkungan tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.
Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

2.4.Penanganan Yang Harus Dilakukan
Ada beberapa langkah penanganan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh paparan di lingkungan tanah. Diantaranya adalah :
1.      Remidiasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi. Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman.
Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
2.      Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).


2.5.Pengukuran Paparan di Lingkungan Tanah
Pengukuran yang dilakukan untuk mengukur keterpaparan dilingkungan tanah dapat dilakukan dengan pengukuran keterpaparan petisida, mengukur gas metan, H2S yang beracun dan lalat serta tikus yang dapat membawa agent penyakit.
Untuk mengukur gas buang atau limbah cair dapat di berlakukan sama dengan yang telah diuraikan di bawah atmosfir dan hidrosfir. Khususnya untuk mengukur paparan lalat dan tikus dapat digunakan indeks lalat yang ada standarnya. Demikian pula indeks pinjal yang dapat dihitung dan bisa pula dipantau.
Pemukiman dapat juga dinilai dengan kualitas bangunannya, baik untuk permanansinya atau denah, luas hunian, ventilasi, pencahayaan, kebisingan, dst.semua ini dapat digunakan untuk menilai kualitas perilaku yang dapat timbul, karena sangat berkolerasi dengan luas hunian.
§  Pengukuran Kepadatan lalat
Kepadatan lalat disuatu tempat perlu diketahui untuk menentukan apakah daerah tersebut potensial untuk terjadinya fly borne diseases atau tidak. metode pengukuran kepadatan lalat yang populer dan sederhana adalah dengan menggunakan alat flygrill. Prinsip kerja dari alat ini didasarkan pada sifat lalat yang menyukai hinggap pada permukaan benda yang bersudut tajam vertikal.
 
Gambar : Fly Grill

Lokasi yang perlu dilakukan pengukuran kepadatan lalat, utamanya adalah perumahan, rumah makan dan tempat pembuangan sampah.









Prosedur pengukuran kepadatan lalat :
  1. Fly grill diletakkan mendatar pada titik lokasi pengukuran
  2. Setiap titik lokasi dilakukan 10x pengukuran
  3. Selama 30 detik lalat yang hinggap di fly grill dihitung
Setelah prosedur diata dilakukan, kepadatan lalat dicatat dilembar isian. Formulir ini diisi tiap kali pengukuran dengan lama waktu 30 detik. Penentuan tingkat kepadatan lalat dihitung dengan cara diambil 5 dari 10 pengukuran yang paling banyak, elanjutnya di rata-rata. Hasil ini dibandingkan dengan standart berikut :
Indeks Kepadatan Lalat
§  Jarang        : < 2
§  Sedang      :  2-20
§  Tinggi        : > 20
Keuntungan penggunaan flygrill diantaranya adalah mudah, cepat dan murah. Dengan demikian dapat dengan cepat menentukan kriteria suatu daerah potensial atau tidak.
Kendati demikian, flygrill mempunyai beberapa kelemahan. Utamanya adalah bahwa flygrill sangat tidak cocok untuk menghitung kepadatan lalat, dimana populasinya sangat banyak atau sangat sedikit. Dalam kondisi seperti itu, penghitungan kepadatan lalat dengan flygrill, hasilnya tidak dapat mewakili keadaan yang sesungguhnya.
§  Pengukuran Kepadatan pinjal
Pengukuran pinjal pada tikus dilakukan menggunakan alat aspirator. Aspirator digunakan untuk menangkap serangga yang berukuran sangat kecil, lembut, lincah, aktif dan sulit dikoleksi dengan pinset atau kuas. Selain itu terdapat juga aspirator untuk menangkap pinjal. Di ilmu kesehatan lingkungan, pinjal banyak terdapat di tikus, yang dapat menyebabkan penyakit.
Gambar : Aspirator Pinjal
Dikarenakan ukuran pinjal yang sangat kecil, dapat terbang. sehingga perlu berhati-hati dalam menangkapnya.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Paparan pada lingkungan tanah adalah pengalaman yang didapat populasi atau organisme akibat terkena atau terjadinya kontak dengan suatu factor agent potensial atau bahan kimia buatan manusia yang masuk dan mengubah lingkungan tanah alami.
Lahan dapat digunakan untuk kawasan industri, maka paparan dapat terjadi terhadap semua buangan industri. Buangan dapat berbentuk gas, cairan maupun bunagan padat. Lahan digunakan untuk pemukiman dan rumah sakit. Sama halnya, masyarakat akan terpapar terhadap buangan domestik dan rumah sakit.
Paparan pada lingkungan tanah ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, serta air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat.

3.2 SARAN
Untuk lebih memahami semua tentang paparan terhadap lingkungan tanah, disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari dalam menjaga kelestarian tanah beserta penyusun yang ada di dalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Soemirat, Juli. 2005. Epidemiologi Lingkungan. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Sofia, Diana. 2001. Pengaruh Pestisida Dalam Lingkungan Pertanian. Fakultas Pertanian : Universitas Sumatera Utara (pdf)
http://www.blogger.com/profile/14400865101249215977
http://adln.fkm.unair.ac.id/index.php
http://helpingpeopleideas.com/publichealth/standard-operational-procedure-sanitarian/
http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/paparan-zat-toksik-terhadap-sistem.html
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pencemaran_tanah&action
http://rahmankumbohu.blogspot.com/
http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2010/09/penemaran-dan-dampaknya-terhadap.html
http://id.answers.yahoo.com/;_ylt=AnjMdwsypFVpG0zCJF1kEaz8eRh.;_ylv=3